Selasa, 26 Mei 2015

Benarkah, Indonesia negeri tanpa ayah?

Beberapa konsultan pengasuhan anak / parenting menyebut Indonesia sebagai fatherless country atau negeri tanpa ayah. Bukan berarti ketiadaan ayah dalam arti fisik hadir, tapi karena pada kenyataannya sedikit sekali ayah yang berkontribusi dalam pengasuhan anak.

Kebanyakan ayah menyerahkan sepenuhnya pengasuhan kepada ibu dengan dalil "al ummu madrosatul ula", ibu adalah madrasah/sekolah pertama bagi anak. Banyak ayah yang belum tahu bahwa kalimat tersebut ada lanjutannya yaitu "wal abbu mudiiruha" dan ayah sebagai kepala sekolahnya. Lengkapnya "al ummu madrosatul ula, wal abbu mudiruha", ibu adalah madrasah pertama, dan ayah adalah kepala sekolahnya.

Sebagai kepala sekolah maka ayahlah yang bertanggungjawab penuh atas apa yang ada dan terjadi dalam keluarga termasuk urusan pengasuhan anak seperti hadits Rasululloh SAW yang diriwayatkan imam Bukhari-Muslim, "Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Suami adalah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya...."

Seorang anak yang sangat minim mendapat sentuhan pengasuhan ayah akan kehilangan maskulinitasnya dan cenderung feminim. BKKBN pernah me-release data bahwa 75 % anak laki-laki SD di Indonesia kebanci-banci an. Hal ini disinyalir karena anak terlalu dominan mendapat sentuhan pengasuhan dari wanita dan hampir tidak mendapat sentuhan dari lelaki. Perhatikanlah betapa seorang anak ketika usia bayi diasuh ibunya di rumah, ketika sekolah TK maka ketemunya juga dengan ibu-ibu, di SD guru juga mayoritas ibu-ibu sehingga wajarlah jika karakternyapun cenderung ke ibu-ibu an/kebanci-bancian.



Buat para ayah, yuk akhiri kondisi dilematis tersebut dengan meningkatkan kerekatan hubungan dengan anak, memperbanyak menyentuh/menciuminya agar mereka tidak kehilangan maskulinitasnya. Prinsipnya tidak harus dengan waktu yang lama karena ayah memang harus bekerja mencari nafkah, tapi walaupun sebentar yang penting memberikan kesan mendalam pada anak.

Apakah perlu diadakan hari ayah untuk menyadarkan kita?

Minggu, 01 Maret 2015

PRESTASI SISWA, KARYA SIAPA?

Data prestasi siswa sering menjadi komoditi yang digunakan sekolah untuk buzz marketing sekolah. Seperti yang terpampang di media-media promo sekolah hari-hari ini.

Pantaskah data prestasi siswa menjadi main issue yang dimunculkan di media promo? Jika prestasi siswa tersebut diraih karena sekolah berandil besar kiranya pantas-pantas saja.

Tapi, pada kenyataannya banyak kalau dikaji sebenarnya data prestasi siswa tersebut terlalu hiperbolis untuk mewakili gambaran kondisi kualitas sekolah. Karena jika dibandingkan dengan siswa lain yang belum berprestasi prosentasi siswa berprestasi hanyalah angka yang sangat kecil. Misal ada 5 siswa berprestasi tapi jumlah semua siswa 100 siswa apakah layak untuk dikatakan bahwa sekolah tersebut penghasil siswa berprestasi?

Lebih menyedihkan lagi jika prestasi yang diraih siswa tidak ada peran polesan sekolah karena sebelum berada di sekolah tersebut sang siswa memang sudah memiliki bakat dan prestasi di bidang tertentu. Jika hal itu yang terjadi maka pencantuman prestasi siswa sebenarnya hanya klaim sekolah untuk mendapatkan keuntungan berupa minat calon siswa.

Minggu, 25 Januari 2015

PILAH PILIH SEKOLAH

Meski baru bulan Januari, sudah banyak kita saksikan media promosi sekolah yang dipasang ditempat-tempat strategis. Sekolah mengambil start awal untuk merebut minat orangtua dan calon siswa. Padahal jika merujuk aturan dinas pendidikan harusnya penerimaan siswa baru mulai dari promo di timeline start on April. By the way bahkan ada sekolah yang sudah over quota.

Berikut kami share beberapa hal sebagai panduan menjatuhkan pilihan sekolah untuk anak-anak kita;
  1. Jika sekolah sudah berumur diatas 10 tahun tanyakan tentang data output/lulusan diterima dimana saja atau jadi apa mereka?,
  2. Jika sekolah dibawah 10 tahun mintalah penjelasan terkait visi dan jaminan kelulusannya?,
  3. Tanyakan kurikulum sekolah; target kurikulum, isi kurikulum, dan gambaran pelaksanaan kurikulum/profile kegiatan sekolah sehari-hari,
  4. Tanyakan dan minta dokumen profile/manifesto visi sekolah bisa berupa buku/modul atau softfile,
  5. Tanyakan dan mintalah data terkait pelatihan guru atau pengembangan SDM sebagai indiktor kualitas pendidiknya,
  6. Untuk menilai kualitas infrastruktur amatilah kondisi di saat jam efektif dan istirahat serta kunjungilah WC dan kamar mandinya,
  7. Sempatkan berdialog dengan guru, siswa, orangtua siswa, dan warga sekitar sekolah untuk mengetahui budaya yang berlaku di sekolah. Perhatikan bagaimana ekspresi wajah mereka ketika bertemu di awal dan cermati senyumannya.

Sungguh, para orangtua, jangan sampai kita salah memilihkan sekolah untuk anak karena akan sangat menentukan pada perkembangan mereka kedepannya, sebagaimana Ibrahim a.s. menempatkan Ismail dan Hajar. Namun yang juga sangat penting harus dipahami semua orangtua yaitu membuat rumah menjadi tempat yang paling membuat nyaman dan diminati anak karena mereka akan melewati hari dengan kuantitas waktu lebih banyak di rumah.

Minggu, 11 Januari 2015

PENTINGNYA KOMITMEN GURU

Tak ayal lagi, peran guru sangatlah penting untuk maju mundurnya sebuah bangsa atau peradaban.

Sayangnya, kini banyak permasalahan yang melingkari guru sehingga bukannya banyak peran dibaktikan tapi kesejahteraan pribadi diburu.

Permasalahan tersebut diantaranya;

  1. Guru tidak menemukan alasan mengapa ia jadi guru,
  2. Guru sering terlambat masuk kerja dengan seribu satu alasan yang tidak jelas,
  3. Guru malas membuat RPP/Learning Plan. jikapun membuat kebanyakan copypaste dari rekan sejawatnya,
  4. Guru suka banget menghitung-hitung berapa takehomepay yang didapatkan sebagai imbal jasa atas apa yang mereka kerjakan,
  5. Guru keberatan jika mendapatkn tambahan tugas walaupun masih dalam lingkup tupoksinya,
  6. Guru tidak peduli kepada siswa diluar siswa sekelasnya,
  7. Guru tidak peduli akan kebersihan lingkungan sekolah karena sudah adanya cleaning service atau household
  8. Guru tidak peduli pada kesusahan atau kesulitan rekan sejawatnya,
  9. Guru malas belajar, tidak penah baca buku, jika ikut training tidak antusias,
  10. Guru menyepelekan perilaku negatif seperti bicara kotor/jorok/kasar, makan sambil berdiri, merasa bahwa itu urusan pribadinya yang tidak berpengaruh pada pembelajaran.


Jika di eksplor lebih dalam, bisa jadi halaman ini tidak muat menampung masalah guru hari ini.

Maka seharusnya bab komitmen diujikan paling awal dalam proses rekrutmen guru.

Kebanyakan sekolah hanya melakukan uji tertulis kompetensi, uji praktek. Ujian atau eksplor komitmen dilakukan terakhir dengan wawancara. Jika begitu maka akan sulit menemukan guru yang benar-benar komitmen. Karena bisa saja mereka tak lulus di uji kompetensi ataupun praktek. Padahal, dalam keseharian KOMITMEN jauh lebih penting daripada kompetensi.

Training KOMITMEN guru, SDIT-SMPIT Insan Teladan Bandung


Jika prosesnya sudah baik maka di awal action guru harus membuat vision statement sebagai ejawantah dari komitmen dirinya. Ini sekaligus sebagai materi upgrading paling awal untuk seorang guru baru.

Bagaimana dengan guru di sekolah anda? Apakah mereka sudah ber-komitmen tinggi?
Bagaimana kita akan dapatkan generasi yang kuat, peradaban yang lebih baik jika para gurunya masih berpenyakit dalam komitmen?

Mari belajar bersama untuk meningkatkan komitmen guru-guru Indonesia. Silahkan hubungi 08156589613 atau pin bb 28328069

Kamis, 04 Desember 2014

Parenting dengan LuQMan Methode

Luqmanul Hakim bukanlah seorang Nabi atau Rasul, apalagi Malaikat. Beliau manusia biasa seperti kita. Namun cara yang beliau gunakan untuk mendidik anaknya diabadikan oleh Alloh di Alqur'an.  Artinya menjadi pedoman pendidikan anak untuk semua orangtua dimasanya maupun masa kini dan yang akan datang. Kenapa?


Siapa sebenarnya sosok Luqmanul hakim, dan bagaimanakah cara yang digunakannya untuk mendidik putranya?

Berminat untuk mengkaji lebih lanjut, segera hubungi abah Joko di 08156589613.

Rabu, 29 Oktober 2014

INSPIRASI PEMBELAJARAN PAUD di FILM "DADDY DAYCARE"

Bagaimana mengelola PAUD agar efektif dan menyenangkan?
Bagaimana cara yang tepat untuk mengajarkan calistung pada AUD?
Bagaimana pendekatan pembelajaran AUD yang membuat anak 'fun' dan kreatif?
Bagaimana cara mengembangkan sekolah PAUD menjadi diminati dan referensi?

Bedah film "Daddy Daycare" di TKIT Ibnu Abbas PATI

Temukan jawabannya di bedah film "Daddy Daycare". Very inspiring movie for PAUD.
Segera hubungi Abah Joko di 08156589613.


Minggu, 23 Juni 2013

Kegiatan Akhir tahun yang Menginspirasi

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengisi seminar smart parenting di Auditorium Indosat Surabaya yang diadakan oleh Rumah Zakat.

Seminar dengan tema "membentuk generasi juara yang berkharakter" merupakan rangkaian kegiatan akhir tahun sekolah binaannya.


Kegiatan yang tak kalah meriah dan menarik dalam rangkaian acara tersebut adalah Juara Exhibition (JE). 114 siswa tampil secara bergantian dan apik dengan berbagai jenis tampilan; perkusi, samproh, tari, teater, peragaan busana, dan paduan suara. Baju yang dikenakan siswa di peragaan busana adalah buatan siswa bersama orangtua dan berbahan sampah (plastik dan kertas).


JE menunjukkan betapa menyenangkan proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah juara. Hal itu nampak dari keceriaan semua siswa yang tampil.


Puncak acaranya adalah wisuda 15 siswa kelas VI yang telah dinyatakan lulus 100% ujian nasional.
JE menjadi oase ditengah kekeringan kegiatan sekolah pada umumnya.

Selasa, 04 Juni 2013

Seminar Medan #2


1.       Allah menyerukan kepada kita mengajukan dua cara untuk membina insan, yakni dengan memberi kabar gembira dan peringatan. Bagaimana konsep yang ideal dalam memberikan peringatan kepada anak agar menjadi anak juara? Dari Nazmi Hidayat Sitorus (mahasiswa)
Sebelum ada peringatan sebaiknya berikan dulu pengetahuan dan teladan. Apalagi untuk anak usia dini yang memiliki sifat peniru ulung sehingga apa yang dilihat itu pula yang akan dilakukan, children see children do. Ketika memberikan peringatan harus menjaga kata-kata tetap halus dan positif sehingga tidak akan melukai hati dan perasaan anak. Perlu kita pahami, bahwa walaupun secara fisik masih kecil tapi anak sama dengan orang dewasa dalam hal kepemilikan hati dan perasaan. Bahkan lebih halus dan sensitif sehingga orangtua, guru, dan orang dewasa harus pandai memilih kata yang tepat.

2.       Memberi hadiah, pujian, piagam dll bisa diterapkan kepada anak-anak SD. Tapi bagaimana dengan anak-anak SMP?. Bagaimana cara mengajar sekelompok anak dengan ‘kemampuan’ yang berbeda-beda? Siti marfuah, LC (guru SMPIT AdDakwah)
Anak SMP juga butuh di hargai walaupun bentuknya berbeda dengan SD. Mereka lebih butuh kepercayaan, pendampingan dan dukungan mental serta fasilitasi seluas mungkin kebutuhan pengembangan minat bakatnya. Perlu dipahami bahwa setiap anak adalah unik dan berbeda. Idealnya, seorang guru, orangtua memiliki kurikulum (silabus dan learning plan) yang special untuk tiap anak. jika tidak tiap anak minimal dipetakan dan dikelompokkan sehingga tetap harus ada beberapa learning plan. Sampai pada tahap penilaian atau evaluasi pembelajaran juga ahrus ada multiple rubrik penilaian.

3.       Apa yang dimaksud guru sebagai pengajar dan guru sebagai pekerjaan?
Idealnya posisi guru tidak hanya sebagai pengajar saja apalagi sebagai mata pencaharian. Guru memiliki peranan yang sangat strategis dalam perbaikan kondisi suatu umat atau bangsa. Guru adalah pejuang peradaban dan agent of change. Jika ada seorang guru yang menjadikan posisinya hanya untuk mata pencaharian maka ia baru dalam level dasar seorang guru. Demikian pula sebagai pengajar satu level diatas hanya sekedar pekerjaan. Level tertinggi adalah guru pejuang peradaban.

4.       Bagaimana mengatasi anak autis supaya menjadi juara?
Pertama saran kami jangan buru-buru menjustifikasi seorang anak sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sebelum ada proses assessment dan observasi dalam waktu yang lama. Jika memang sudah terbukti maka tugas orangtua, guru menyiapkan mental dan ilmu untuk mengelola. Secara teori cara yang digunakan sama dengan anak pada umumnya, hanya saja karena mereka dimungkinkan ada gangguan di salah satu cluster di otak maka ada beberapa perlakuan khusus yang harus dilakukan.

5.       Bagaimana cara mengatasi anak yang pasif. Baik dalam segi gerak, bahasa, seni,dsb. Metode seperti apa yang paling baik untuk digunakan? Dari Ningsih
Banyak-banyaklah diberikan berbagai macam stimulasi kegiatan. kemungkinan anak tersebut belum ketemu apa yang ia sukai yang membuat ia antusias. Seringlah memberikan beragam kegiatan dan melibatkan dalam berbagai pertemuan atau situasi.

6.       Bagaimana cara mendisiplinkan diri dan anak dalam mendidik agar tetap stabil?
Untuk bisa disiplin memang tidak mudah. Perlu usaha yang besar. Perlu ada keteladanan. Perlu selalu diingatkan dan dihargai setiap perkembangannya. Jika sudah biasa akan bisa.

7.       Bagaimana cara melihat bakat anak dari kecilnya? Sehingga anak tersebut lebih mudah diarahkan? Dalam kelas ada anak yang aktif berjalan ketika belajar, ada yang telungkup ketika belajar da nada yang diam di kursi. Apakah tindakan yang harus kita lakukan agar pembelajaran berjalan lancar?
Perlu dipahami beda antara minat dengan bakat. Minat itu antusias pada sesuatu. Bakat tidak hanya antusias tapi sangat menikmati dalam prosesnya. Jika bakat maka melakukan sesuatu tanpa diperintah dan intervensi dari luar dan bisa menghasilkan performa yang maksimal. Jika ingin pembelajaran berjalan lancar maka persiapannya harus matang.

8.       Bagaimana mewujudkan guru-guru biar professional dan totalitas bekerja pada pekerjaannya sebagai guru?
Jamin kesejahteraannya. Fasilitasi untuk terus belajar. Hargai setiap perkembangan.

9.       Bagaimana metode yang tepat untuk mengajari anak dalam satu kelas yang memiliki berbagai macam karakter, ada kinestetik, ada audio, dan visual agar semua anak merasa nyaman dengan cara ngajar kita? Rodiah Ramke
Pahami ciri dan sifat berbagai karakter anak. Buat persiapan pembelajaran sesuai dengan karakternya. 

10.   Bagaimana kiat-kiat kita sebagai seorang guru supaya bias mengajar tanpa marah dan tidak emosi?
Buatlah persiapan mengajar yang baik. Selalu luruskan orientasi menjadi guru. Bersabarlah menghadapi segala bentuk perilaku anak didik.

11.   Agar anak bias menjadi anak juara biasanya memberikan segala macam kegiatan yang positif. Namun sering saya temui anak menjadi jenuh dan stress. Kapan anak dapat diberikan kegiatan2 yang sampai menyita waktu bermainnya? Kemudian apa solusinya? Iin dwi putri (mahasiswi)
Kenali potensinya sejak dini. Hargai kemampuannya dan eliminasi ketidakmampuannya.

12. Bagaimana caranya membangun karakter anak menjadi juara? Jika 3 elemen; sekolah, orangtua, dan sekolah tidak saling mendukung? Marhani (RAIT Tunas Cendekia Binjai)
Masing-masing elemen harus kembali dipahamkan dan terus menjalin kerjasama.

 

Senin, 03 Juni 2013

Seminar Medan



Jawaban pertanyaan peserta #1

Bagaimana mensikapi sikap anak jika kita menyuruh dengan 1 kata dan ia menjawab dengan 10 kata atau banyak alasan?
Sebagai orangtua atau guru kita harus memahami bahwa seorang anak juga punya hati dan perasaan. Hati dan perasaan menjadi 'tidak enak' ketika kita harus melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan atau karena disuruh oranglain kendatipun orang tersebut adalah orangtua atau guru kita. Sehingga sebaiknya kita harus menggunakan bahasa 'minta tolong' bukan 'menyuruh'. Contoh permintaannya bisa seperti ini, "Abang sayang, boleh gak mama minta tolong? tolong dong ambilin.....dst".
Yang perlu dipahami juga adalah kita jangan cepat puas dan senang ketika anak melakukan sesuatu karena kita suruh atau perintah. Karena bisa jadi mereka dalam kondisi terpaksa atau 'tertekan'. Puaslah jika mereka melakukan sesuatu dengan ringan dan kesadaran penuh.



Saya mempunyai anak. Alhamdulillah dia selalu menjadi atau mendapat juara tetapi kalau dia tidak juara dia selalu kecewa dan kesal bagaimana cara mensikapinya atau kata-kata apa yang pantas untuk anak saya?.
Ajaklah anak tersebut ngobrol atau diskusi terkait pemahaman konsep juara. Sampaikanlah bahwa dalam sebuah perlombaan atau pertandingan menang atau kalah itu biasa. Semuanya adalah pembelajaran. Ketika kita menang tapi menjadi sombong justru itu menunjukkan sejatinya kita kalah dan sebaliknya.


Bagaimana mengatasi anak yang malas dengan aktifitas pagi (bangun tidur, mandi, sholat, sarapan dst) sebelum ke sekolah?.
Untuk bisa hidup teratur (disiplin) memang bukan perkara mudah. Orang dewasa pun (termasuk kita) terkadang juga tidak mampu melakukannya. Intinya ada pada pembiasaan. Pertama kita harus memberikan pemahaman pentingnya hidup teratur. Selanjutnya doronglah anak untuk membuat jadwal dan aturan untuk dirinya sendiri. berikanlah hadiah atau penghargaan setiap pencapaian atau keberhasilan, dan berilah peringatan setiap kealpaan. Dan bersabarlah untuk selalu memberikan peringatan.

Bagaimana jika anak pergi kesekolahnya rajin, tetapi saat dia belajar dikelas dia sering bermain apapun yang dia pegang menjadi mainannya bahkan tangannya sendiri dan dia selalu mengantuk dan tidak fokus saat belajar, bagaimana cara mengatasi anak seperti ini?
Tidak selamanya masalah tersebut bermula dari kesalahan si anak. Bisa jadi karena memang kondisi di sekolah yang membuat anak tersebut mengalami demotivasi (malas) ataupun mengantuk dan tidak fokus. Setiap anak memiliki cara dan gaya masing-masing dalam belajar. Gaya belaajr biasanya sangat dipengaruhi minat yang besar atau antusias. Nah PR kita sebagai orangtua dan guru adalah bagaimana menjaga antusias tersebut tetap ada dalam diri anak sepanjang proses pembelajaran.

Anak saya umur 6 tahun di sekolahnya. Dia adalah siswa paling muda dan belum paham tulis arab sambung dan ketika dia tidak mengerti gurunya tidak membantu akhirnya dia enggan 
sekolah lagi? Apa upaya saya supaya anak saya senang ketika sekolah padahal saya tahu dia mahir dalam ilmu berhitung dan Alhamdulillah dia punya kecerdasan kinestetik dan tidak mau dia bagaimana trik supaya aktifitasnya dipenuhi?
Usia memang berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Karena terkait seberapa banyak stimulasi yang ia dapatkan. Walaupun tidak selalu ketika lebih mudah kalah dengan yang lebih tua. kuncinya adalah pada stimulasi. Keengganan untuk sekolah bisa jadi karena dia sudah tidak menemukan lagi stimulasi yang dibutuhkan. Sebaiknya orangtua memberikan masukan kepada sekolah tersebut. Di rumah orangtua juga memberikan berbagai stimulasi yang dibutuhkan. Karena memang proses tumbuh kembang anak kita tidak bisa hanya dilakukan satu komponen saja, sekolah saja atau sebaliknya tapi harus dengan bekerjasama.

Hal yang terjadi di sekolah sekarang adalah menilai kecerdasan anak secara majemuk sehingga ada penilaian anak pintar dan anak bodoh. Apa yang harus kita lakukan mengubah persepsi masyarakat dan guru-guru yang masih mempunyai persepsi seperti itu?
Yang harus dilakukan adalah mengubah paradigma. yang benar kita harus yakin bahwa setiap anak adalah cerdas dengan potensinya masing-masing. Ada yang punya beberapa kecerdasan yang menonjol ada juga yang hanya satu yang menonjol. Banyak contoh orang dengan kondisi cacat fisikpun tetap memiliki potensi kecerdasan. Karena memang kecerdasan tidak berbanding lurus dengan kondisi fisik tapi berbanding lurus pada psikis. Untuk mengubah paradigma tersebut harus banyak membaca dan ikut pelatihan atau parenting sampai mendapat pemahaman bahwa setiap anak cerdas.


Sabtu, 01 Juni 2013

Lulus = Keluar dari penjara?

Kemarin sore ketika kami dalam perjalanan bertandang ke rumah sepupu yang habis melahirkan, kami berpapasan dengan konvoi puluhan pengendara motor.


Semua pengendara motor tersebut tidak pakai helm. Mereka memainkan gas motor, menari nari dan berteriak layaknya iringan kampanye. Dari warna seragam yang dikenakan kami yakin mereka anak SMP. Celana pendek biru, baju putih yang tak lagi putih karena penuh corat moret cat sana sini. "Koq mereka bisa bebas berkendara seperti itu yach?" sebetik pertanyaan melintas di akalku. "Halooo... dimana pa Polisi??". "Ini INDONESIA Bung..!". Dialog-dialog tersebut tiba-tba bersliweran begitu saja di benakku.

Setiba di rumah sepupu baru kami tahu rupanya hari itu adalah hari diumumkannya kelulusan ujian nasional untuk tingkat SMP.
Dulu saat kami masih jadi pelajar kebiasaan merayakan kelulusan seperti yang tampak sore itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil pelajar SMA. Apakah ini sebuah kemajuan sehingga sekarang anak SMP pun melakukan hal serupa?

Bapak, Ibu, Mas, Mbak yang punya anak atau saudara yang sedang lulus SMP tolong bantu kami menanyakan pertanyaan berikut kepada mereka (yang lulus SMP);
1. Apa yang sudah kalian dapatkan selama 3 tahun di SMP?
2. Apa yang sudah kalian buat/lakukan selama 3 tahun lalu di SMP?
3. Apa yang akan kalian lakukan berikutnya?


Tolong mintakan jawaban 3 pertanyaan diatas. Jika mereka mampu menajwab dengan jelas pertanyaan tersebut maka kami sangat senang dan optimis akan masa depan mereka dan juga masa depan bangsa Indonesia.
Jika tidak maka ada pertanyaan berikutnya, apa arti perayaan kelulusan yang mereka lakukan?
Atau itu adalah ekspresi kebebsan mereka dari PENJARA?.

Rabu, 22 Mei 2013

Gelar Karya Siswa Juara

Beberapa waktu lalu saya diminta membuka acara 'Gelar Karya' siswa SD Juara Cimahi.
Acara tersebut dilaksanakan di salah satu ruang kelas yang sudah disulap layaknya showroom. Ada panggung untuk ceremonial pembukaan dan performance siswa.



Berbagai karya siswa di pamerkan. Bahkan sebagian ada juga yang dijual. Saya pun waktu itu membeli bros jilbab.




Hari itu sekolah juga mengundang orangtua siswa untuk menyaksikan gelar karya.

Di setiap stand pameran sudah siap beberapa siswa yang bertugas menjelaskan karya yang dipamerkan. Dengan percaya diri mereka menyampaikan proses pembuatan, manfaat, dan ada pula yang mendemonstrasikan cara pembuatannya.


Jujur, hari itu saya sangat bangga pada siswa-siswa sekolah juara yang sangat kreatif dan inovatif dalam pembelajaran. Saya membayangkan jika hasil akhir sebuah pembelajaran adalah sebuah karya maka akan banyak karya inovatif yang dihasilkan oleh siswa-siswa kita.

Minggu, 05 Mei 2013

Jadilah Guru seperti Ms BESS

Bermula dari sharing terkait perkembangan kurikulum 2013 dengan para guru Sekolah Juara Cimahi berujung ke sharing movie. Maklumlah, kami ini masih loyalis kaum sufi (suka film.pen).

Seorang guru memberikan referensi beberapa judul film kepada saya. Dari beberapa tersebut ada 2 judul yang belum pernah ditonton. Salah satunya akan saya sharing disini.

Judul filmnya adalah Beyond the Blackboard. Sebuah film based on true story seorang guru perempuan peraih award sebagai guru yang paling sosial.

Dibawah ini saya insert kan thrillernya.



Film tersebut mengingatkan kembali kepada saya akan pentingnya sebuah komitmen dan kemauan untuk all out dalam mengemban tugas mendidik.

Sang tokoh juga memberi teladan sempurna dalam berbagai perannya. Selain menjadi guru yang hebat, ia juga bisa menjadi istri yang patuh pada suaminya, dan ibu yang sangat memperhatikan perkembangan anak-anaknya. Keren deh pokoknya.

So, penasaran? Yuk kita bedah bareng. Tertarik... call me on 08156589613.

Senin, 29 April 2013

Semua Anak Bisa Menjadi Juara

Judul diatas menjadi tema coaching clinic pada Seminar Nasional Pendidikan di Pekanbaru, 21 April 2013 yang lalu.

Coaching clinic adalah salah satu strategi pembelajaran yang berporos pada permasalahan yang dialami para pembelajar. Seperti yang terjadi saat seminar tersebut. Beberapa orangtua dan guru yang menjadi peserta menyampaikan permasalahan dalam mendidik anak atau siswa mereka. Pembicara sebagai fasilitator dan mentor memberikan tips-tips yang taktis sebagai alternatif solusi dari permasalahan yang diungkapkan.



Ada lebih dari 200 peserta yang turut hadir saat itu. Sayang waktu yang di plot oleh panitia kurang lama sehingga tidak banyak peserta yang berkesempatan untuk sharing permasalahan mereka dalam mendidik dan menemukan potensi Juara dalam diri anak dan siswa.

Kendati demikian setidaknya para peserta sudah mendapatkan pencerahan yang sangat jelas bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia semuanya membawa gen Juara. Selanjutnya menjadi tugas dan tanggungjawab orangtua, sekolah, dan masyarakat pada umumnya untuk menjaga, memupuk, dan mengembangkan gen Juara tersebut hingga benar-benar menjadi seorang manusia yang Juara dunia dan akherat. Di dunia Juara dengan indikator menjadi rujukan dan mampu memberikan manfaat seluasnya kepada seluruh alam, di akherat kelak mereka akan bersama orang-orang yang beruntung.

Jumat, 21 Desember 2012

Together Let's Makes Wonder

Pekan lalu Bengkel Sekolah kembali berkesempatan berbagi dengan para bunda guru di PAUD Abu Bakar Ash Shidiq Pati.


Pihak manajemen menamakan acara itu Forum Ukhuwah dan Pelatihan Peningkatan Mutu.
Sudah sebulan mereka menghubungi hingga akhirnya ada kata sepakat waktu Ahad kemarin.
Acara ini diadakan untuk meningkatkan 'teamwork' guru yang mulai goyah karena 'load' pekerjaan yang tak kunjung berkesudah.


Dengan strategi Eksplorasi, Game, dan Kontemplasi, pa Jek (Coach Bengkel Sekolah) berhasil mengaduk-aduk perasaan para guru hingga akhirnya mereka luluh dan bertekad untuk kembali menyatukan visi dan misi perjuangan lembaga.


"Kita disini tidak hanya sedang bekerja mencari maisyah, tapi kita sedang membangun peradaban Indonesia baru yang lebih baik dari kondisi sekarang", demikian closing statement mengakhiri sesi sharing hari itu yang bertajuk "Together Let's Makes Wonder" bersama-sama menciptakan keajaiban di sekolah kita. aminn.

Rabu, 19 Desember 2012

Upgrading Guru PGSI KepRi



Awal desember lalu menjadi momentum bersejarah bagi Bengkel Sekolah.
Administrator, founder, dan pegiatnya berhasil menapakkan kakinya di bumi Batam. 


Kehadirannya disana dalam rangka memenuhi undangan dari pengurus Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia (PGSI) Wilayah Kepulauan Riau untuk memberikan upgrading kepada para anggotanya.
70 an guru dari puluhan sekolah islam se-penjuru KepRi dengan antusias mengikuti upgrading yang bertajuk “tobe very inspiring teacher”.


Materi yang disampaikan diantaranya; menemukan motivasi menjadi guru sejati, manajemen kelas, merancang creative lessonplan, dan kontemplasi peran guru sebagai ‘agent of change’.
Upgrading tersebut bertempat di gedung Grahapena Batam dan memakan waktu sehari penuh.


Semoga langkah ini menjadi awal yang baik untuk bengkelsekolah.com menjelajahi nusantara di 2013 nanti. Aminn. 


Senin, 12 November 2012

Parenting Education Edisi Special "Setiap anak adalah Emas"

Bertempat di masjid Assalam Mijen Semarang, hari ahad lalu sekitar 40 ibu-ibu orangtua siswa TKIT AsSalam mengikuti acara parenting education yang digelar oleh komite sekolah.


Kali ini acara diisi oleh seorang konsultan pendidikan berbasis Multiple Intellegences System, Joko Kristiyanto yang juga selaku Kepala Sekolah SD Juara Semarang.



Beliau menyampaikan materi setiap anak itu adalah emas dengan strategi bedah film 'ichsan, mama i love u'.


Sebelumnya, beliau melakukan eksplorasi pemahaman orangtua dengan strategi mind mapping. Semua orangtua menuliskan di selembar kertas yang disediakan tentang pengetahuan yang dimilikinya terkait pendidikan anak.


Materi tersebut bertujuan untuk meluruskan paradigma orangtua terhadap pendidikan anak dan cara-cara mendidik anak tersebut dan setidaknya memuat 3 hal, yaitu; meluruskan paradigma belajar, paradigma setiap anak adalah emas, dan bagaimana cara mendampingi tumbuh kembang anak.

Testimoni:
1. "Menurut saya, acara ini mencerahkan. Saya ingin yang terbaik untuk anak saya. Kini saya semakin menyadari yang terbaik bagi anak saya belum tentu sesuai dengan yang kita inginkan. Biarkan anak jadi dirinya sendiri. Karena anak punya kehidupan sendiri, kita hanya penunjuk jalan bukan pengatur." (ibu Tri Kundarni)
2. "Acara ini sangat bermanfaat sekali untuk pembelajaran dalam mendidik anak." (ibu Aulia Wicaksono)


Untuk informasi lebih lanjut segera hubungi:
Guru, Konsultan Pendidikan berbasis MIS
Joko Kristiyanto (Pak Jek)
HP. 08156589613 / 02491301279

Rabu, 24 Oktober 2012

Pelatihan PAUD Ramah Anak

Demak, sabtu, 20 Oktober 2012.


17 guru PAUD IT Kota Wali Demak dengan antusias mengikuti pelatihan pengelolaan PAUD Ramah Anak.

Dengan strategi Movie Learning, Joko Kristiyanto mampu membuat guru tak bergeming. Film "Daddy Day Care" dibedah dengan sangat apik diselingi cerita-cerita inspiratif yang menggugah.


Secara garis besar pelatihan tersebut bertujuan untuk membangun mindset yang benar tentang pengelolaan PAUD. Disamping itu di dalam film tersebut juga terdapat contoh-contoh berbagai strategi pembelajaran untuk siswa PAUD seperti; role playing, pentas boneka, story telling, dan lain-lain.

Kamis, 11 Oktober 2012

Pak Budi sang Penembus Batas

Nama Lengkapnya Budi Setiadi. Pria yang baru kemarin aku kenal ini benar-benar telah menembus batas. Pertemuan yang berawal dari sebuah cerita seorang kawan Direktur SOLO Peduli, Mas Supomo tentang realitas hidup orangtua anak asuh.


Beliau tinggal di sebuah rumah kecil dan sederhana berukuran sekitar 4X8 meter persegi. Ketika kami datang (saya dan mas Pomo) beliau menyambut dengan sumringah dan senang. Tidak tercermin atau terlintas sedikitpun kesedihan dalam wajahnya.

Sehari-hari beliau bekerja di Pasar Klewer sebagai petugas penarik retribusi dengan upah Rp. 450.000,- per bulan. Dengan kondisi seperti itu beliau mampu mengantarkan keenam putranya untuk berprestasi. Putri pertama beliau saat ini sedang kuliah di Jerman, 2 putranya ada yang di UGM, 1 di ITB, dan 1 masih SMA di SMart Ekselensia Bogor. Pengalaman hidup ini beliau tuangkan di buku Menembus Batas. Buku yang layak dibaca oleh orang yang merasa hidupnya dalam kondisi terbatas atau pas-pasan tapi punya banyak keinginan besar.

Kita layak belajar dari orang yang satu ini...




Rabu, 10 Oktober 2012

Inspiring Movie: "The Ron Clark story"

Untuk guru yang menemukan kesulitan dalam memanajemen kelasnya.
Untuk guru yang kesulitan mengelola perilkau siswa yang beraneka ragam.
Untuk guru yang kebingungan mencari cara mengatasi problem kesulitan dalam KBM.
Film ini bisa jadi solusinya...


Penasaran dengan film utuhnya??
Saya siap membawakannya dalam bedah film "The Ron Clark Story" film bermutu tinggi untuk kondisi kelas yang kacau...

Call me:
Joko Kristiyanto (Pak Jek)
HP. 08156589613 / 02491301279
Pin 28328069

Sekolah: tempat yang membahagiakan???

Beberapa pekan terakhir ini, media banyak memberitakan tentang tawuran pelajar. Isu lama yang kembali menyeruak dengan kualitas yang lebih wowww. Seorang yang masih bertitel pelajar sebuah sekolah dengan sadis membunuh pelajar lain. Berita lengkapnya bisa dibaca di berbagai media.

Mari merenung sejenak, apa yang membuat pelajar tersebut tega berbuat seperti itu? ironisnya banyak kasus tawuran yang terjadi di jam efektif belajar di sekolah. Bisa dipastikan mereka lari dari sekolah? Di kalangan mereka tindakan seperti itu menunjukkan keberanian karena yang tinggal di sekolahpun banyak yang inginnya lari tapi tertahan oleh rasa takut sendiri. Demikianlah kiranya realitas hari ini banyak pelajar yang tidak betah tinggal di sekolah dan ingin lari darinya. Lihatlah bagaimana ekspresi mereka ketika diumumkan kelulusannya ini melengkapi ilustrasi kejenuhan dan kebosanan pelajar untuk tinggal di sekolah.

Mari merenung, ada apa dengan SEKOLAH? Adakah para pelajar tersebut tidak menemukan kesenangan dan kebagiaan lagi di sekolah sehingga mereka lari dan mencari tempat dan kegiatan lain di luar sekolah ayo kita cari jawabannya dengan melihat kondisi sekolah kita. Sudahkah kebahagian semua pihak menjadi tujuan sekolah? Indahnya jika sekolah menjadi tempat yang membahagiakan bagi guru, siswa, orangtua, warga sekitar dan seluruh stakeholder. Mungkinkah hal itu mewujud di sekolah kita?


Untuk bahan perbandingan dan rujukan silahkan dibaca buku "Summerhill School, Pendidikan alternatif yang membahagiakan" buku karangan AS Neil yang sudah diterjemahkan.

Buku tersebut berisi kumpulan kisah pengalaman semua orang tentang sebuah sekolah asrama yang berprinsip bahwa sekolah harus menjadi tempat yang membahagiakan bagi semua orang; guru, siswa, orangtua maupun warga sekitar.

Ayo kita kembalikan kebahagian semua orang terhadap sekolah!!!