Senin, 03 Juni 2013

Seminar Medan



Jawaban pertanyaan peserta #1

Bagaimana mensikapi sikap anak jika kita menyuruh dengan 1 kata dan ia menjawab dengan 10 kata atau banyak alasan?
Sebagai orangtua atau guru kita harus memahami bahwa seorang anak juga punya hati dan perasaan. Hati dan perasaan menjadi 'tidak enak' ketika kita harus melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan atau karena disuruh oranglain kendatipun orang tersebut adalah orangtua atau guru kita. Sehingga sebaiknya kita harus menggunakan bahasa 'minta tolong' bukan 'menyuruh'. Contoh permintaannya bisa seperti ini, "Abang sayang, boleh gak mama minta tolong? tolong dong ambilin.....dst".
Yang perlu dipahami juga adalah kita jangan cepat puas dan senang ketika anak melakukan sesuatu karena kita suruh atau perintah. Karena bisa jadi mereka dalam kondisi terpaksa atau 'tertekan'. Puaslah jika mereka melakukan sesuatu dengan ringan dan kesadaran penuh.



Saya mempunyai anak. Alhamdulillah dia selalu menjadi atau mendapat juara tetapi kalau dia tidak juara dia selalu kecewa dan kesal bagaimana cara mensikapinya atau kata-kata apa yang pantas untuk anak saya?.
Ajaklah anak tersebut ngobrol atau diskusi terkait pemahaman konsep juara. Sampaikanlah bahwa dalam sebuah perlombaan atau pertandingan menang atau kalah itu biasa. Semuanya adalah pembelajaran. Ketika kita menang tapi menjadi sombong justru itu menunjukkan sejatinya kita kalah dan sebaliknya.


Bagaimana mengatasi anak yang malas dengan aktifitas pagi (bangun tidur, mandi, sholat, sarapan dst) sebelum ke sekolah?.
Untuk bisa hidup teratur (disiplin) memang bukan perkara mudah. Orang dewasa pun (termasuk kita) terkadang juga tidak mampu melakukannya. Intinya ada pada pembiasaan. Pertama kita harus memberikan pemahaman pentingnya hidup teratur. Selanjutnya doronglah anak untuk membuat jadwal dan aturan untuk dirinya sendiri. berikanlah hadiah atau penghargaan setiap pencapaian atau keberhasilan, dan berilah peringatan setiap kealpaan. Dan bersabarlah untuk selalu memberikan peringatan.

Bagaimana jika anak pergi kesekolahnya rajin, tetapi saat dia belajar dikelas dia sering bermain apapun yang dia pegang menjadi mainannya bahkan tangannya sendiri dan dia selalu mengantuk dan tidak fokus saat belajar, bagaimana cara mengatasi anak seperti ini?
Tidak selamanya masalah tersebut bermula dari kesalahan si anak. Bisa jadi karena memang kondisi di sekolah yang membuat anak tersebut mengalami demotivasi (malas) ataupun mengantuk dan tidak fokus. Setiap anak memiliki cara dan gaya masing-masing dalam belajar. Gaya belaajr biasanya sangat dipengaruhi minat yang besar atau antusias. Nah PR kita sebagai orangtua dan guru adalah bagaimana menjaga antusias tersebut tetap ada dalam diri anak sepanjang proses pembelajaran.

Anak saya umur 6 tahun di sekolahnya. Dia adalah siswa paling muda dan belum paham tulis arab sambung dan ketika dia tidak mengerti gurunya tidak membantu akhirnya dia enggan 
sekolah lagi? Apa upaya saya supaya anak saya senang ketika sekolah padahal saya tahu dia mahir dalam ilmu berhitung dan Alhamdulillah dia punya kecerdasan kinestetik dan tidak mau dia bagaimana trik supaya aktifitasnya dipenuhi?
Usia memang berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Karena terkait seberapa banyak stimulasi yang ia dapatkan. Walaupun tidak selalu ketika lebih mudah kalah dengan yang lebih tua. kuncinya adalah pada stimulasi. Keengganan untuk sekolah bisa jadi karena dia sudah tidak menemukan lagi stimulasi yang dibutuhkan. Sebaiknya orangtua memberikan masukan kepada sekolah tersebut. Di rumah orangtua juga memberikan berbagai stimulasi yang dibutuhkan. Karena memang proses tumbuh kembang anak kita tidak bisa hanya dilakukan satu komponen saja, sekolah saja atau sebaliknya tapi harus dengan bekerjasama.

Hal yang terjadi di sekolah sekarang adalah menilai kecerdasan anak secara majemuk sehingga ada penilaian anak pintar dan anak bodoh. Apa yang harus kita lakukan mengubah persepsi masyarakat dan guru-guru yang masih mempunyai persepsi seperti itu?
Yang harus dilakukan adalah mengubah paradigma. yang benar kita harus yakin bahwa setiap anak adalah cerdas dengan potensinya masing-masing. Ada yang punya beberapa kecerdasan yang menonjol ada juga yang hanya satu yang menonjol. Banyak contoh orang dengan kondisi cacat fisikpun tetap memiliki potensi kecerdasan. Karena memang kecerdasan tidak berbanding lurus dengan kondisi fisik tapi berbanding lurus pada psikis. Untuk mengubah paradigma tersebut harus banyak membaca dan ikut pelatihan atau parenting sampai mendapat pemahaman bahwa setiap anak cerdas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar